NINO-5
Dari Wiki Exvanlith
Daftar isi |
NINO
Anton Novenanto lebih sering dipanggil NINO. Panggilan sejak kecil ini tidak pernah diketahui asal-usulnya, termasuk siapa yang pertama kali memanggilnya dengan nama itu. Lulus dengan "normal" dari SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan pada tahun 1998 membuat NINO tidak pernah bangga menjadi seorang alumni SMA itu, dia lebih setuju dikenal sebagai seorang EXVANLITH. Sikap ini didasarkan pada pengalaman ketika di Muntilan maupun setelah lulus yang bergaul dengan beberapa kawan EXVANLITH seperti Yoko-5, Femi-5, dan Poppy-5.
NINO memiliki nama panggilan lain yaitu Anton Gudhel, sejarah mencatat seorang siswa SMA PL Van Lith dikejar-kejar oleh anak kerbau, dan sejak itu Pak Arif memanggil beliau dengan sebutan Gudhel (anak sapi). NINO sangat piawai bermain gitar dan bersama-sama dengan Poppy-5, Ideas-5 dan Yos-5 mendirikan Jie-A Band.
NINO mengakui bahwa pengalamannya selama tiga tahun itu sangat mengubah hidupnya, selain juga karena dia menemukan pasangan hidupnya, Eny Indriani, yang juga bersekolah di SMA itu.
Sebelum Muntilan
Bersekolah di SMA Van Lith bukanlah tujuan utama NINO ketika meninggalkan Surabaya. Ketika masih duduk di Kelas 3 di SMP Negeri 1 Surabaya, NINO bersama keluarganya berlibur ke Yogyakarta. Pada kesempatan itu, ayahnya, I Basis Susilo, mengajak seluruh keluarga ke bekas sekolahnya, SMA Seminari Mertoyudan, Magelang. Pada titik itu, NINO memutuskan sendiri untuk mengalami pendidikan di sekolah berasrama. Sayang, pada kesempatan itu, formulir pendaftaran SMA Seminari Mertoyudan sudah tutup (ujian dilakukan sebelum bulan Februari). Akhirnya, dengan tangan hampa pulanglah dia ke Surabaya. Namun keinginan untuk sekolah jauh dari orangtua terus melekat dalam benaknya.
Pada kesempatan liburan yang lain, NINO diajak seorang kolega ayahnya, Makmur Keliat (dosen HI Universitas Indonesia), ke Yogyakarta. Selain untuk berlibur, NINO mencari formulir pendaftaran di SMA di Yogyakarta, SMA De Britto waktu itu menjadi tujuannya. Kondisi yang berbeda dengan SMA Seminari Mertoyudan dihadapinya. Bukannya pendaftaran sudah tutup, tapi pendaftaran belum buka. Oleh seorang sepupu dari Makmur, NINO disarankan untuk pergi ke Muntilan. Katanya, di Muntilan ada sebuah sekolah bagus, katolik berasrama. Namun waktu liburan sudah habis, NINO harus kembali ke Surabaya.
Keinginan untuk sekolah 'di luar Surabaya' semakin menguat. Sampai suatu ketika, NINO diantar keluarganya ke Muntilan. Mencari sekolah yang dimaksud. Secara kebetulan pula, SMA Van Lith sedang membuka pendaftaran siswa baru, dan formulir pun terbeli. Waktu itu, NINO belum menghadapi EBTANAS SMP.
(kisah selanjutnya sedang digarap, tunggu tanggal mainnya)
Ketika di Muntilan
Ada dua peristiwa penting yang membuat NINO seketika tenar bahkan sebelum persekolahan dimulai.Pertama, adalah pengalaman dikejar kerbau. Waktu itu, masih dalam rangka ospek, keplek NINO lepas. Dia menyadarinya, sudah mencari tapi menemukan. Oleh Harry-3 dia dimintai pertanggungjawaban karena telah menghilangkan keplek itu. Dia memilih konsekuensi lari keliling lapangan bola. Ketika lari, dia tidak melihat ada sekerumunan kerbau yang sedang merumput di lapangan itu. Merasa diganggu kawanan kerbau itu mengejar NINO yang memang sedang berlari kencang. Untunglah, ada Gepeng-3 yang melihat kejadian itu dan mencoba menghalau kawanan kerbau agar berhenti mengejar. Karena peristiwa ini NINO dijuluki Anton Gudhel. Peristiwa kedua, masih dalam masa ospek, adalah ketika NINO mengejutkan kawan-kawannya dengan petikan gitar akustiknya membawakan lagu KKEB dari Andre Hehanussa. Femi-5 menyebut NINO sebagai anak ajaib dan penuh kejutan. Berbekal bakat musiknya ini NINO mendirikan Jie-A Band.
tunggu penggarapannya
Pasca Muntilan
Setelah dinyatakan lulus dari SMA Van Lith, NINO melanjutkan studinya di Jurusan Sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Waktu itu, NINO tidak mendaftar di universitas swasta, baik di Yogyakarta ataupun di Surabaya. Dia hanya menentukan di satu tujuan, UGM. Refleksi tentang kuliahnya diolah dalam sebuah kisah pendek berjudul "Umbulharjo, 15 Januari 2003"[1].
Rentang waktu kuliah NINO relatif "normal" bagi mahasiswa Jurusan Sosiologi, UGM yang lain. Pada 31 Januari 2003, NINO dinyatakan lulus dari UGM. Namun karena masalah administrasi, dia baru bisa mengikuti wisuda pada 19 Mei 2003.
Sejak Maret 2003, NINO bekerja sebagai peneliti muda di Lembaga Studi Perubahan Sosial (LSPS) di Surabaya. Sebuah lembaga penelitian yang bergelut di bidang Media Watch dan Civic Education. Di lembaga yang dipimpin oleh Prof. Hotman Siahaan (Sosiologi Universitas Airlangga) ini, NINO ditempa untuk melakukan berbagai macam penelitian. Salah satu yang diingatnya adalah ketika dia ditugaskan untuk pergi ke Jember dan Pasuruan, untuk melakukan wawancara dengan para kyai di beberapa pondok pesantren di Jember dan Pasuruan. Dua kota itu, belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Namun, dia bisa menyelesaikan penelitian itu dengan baik. Pemilu 2004 menjadi momentum baginya untuk membuat jaringan di kalangan jurnalis dan media massa di Surabaya. LSPS, sebagai bagian dari Koalisi Media bersama dengan ISAI, LSPP, LeSPi (Semarang), LP3Y (Yogyakarta), dan beberapa lembaga lainnya melakukan pemantauan atas peran media massa dalam Pemilu 2004.
Jenuh dengan dunia penelitian NINO mengundurkan diri dari LSPS dan menjadi media specialist di Pusat Kajian Komunikasi, Surabaya. Di bawah pimpinan Suko Widodo, atau lebih dikenal sebagai Penasehat Spiritual Republik Mimpi, (salah satu program news dot com[2]) NINO belajar hal-hal teknis terkait dengan produksi media baik cetak maupun audio-visual, selain juga masih melakukan penelitian yang berhubungan dengan media dan opini publik. Dengan dasar keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya, NINO ditarik menjadi asisten Public Outreach and Communication Specialist pada Environmental Services Program (ESP)-USAID untuk wilayah Malang. Pekerjaan baru ini dilakoninya sejak 1 April 2006 sampai Maret 2007. Sembari berkarya untuk ESP-USAID, NINO juga mulai menularkan ilmu yang dipelajarinya ketika kuliah, Sosiologi, di Universitas Brawijaya, Malang. Lakon sebagai dosen pada Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Malang dilakukan sampai saat ini.
(tunggu kisah selanjutnya)
