Gita-5
Dari Wiki Exvanlith
INSPIRASI SEKOLAH KOTAK SABUN
Gita Darmawan sangat terkenal di angkatannya di SMA Pangudi Luhur Van Lith bukan karena jidatnya yang selapangan bola, tapi juga karena senyumnya yang khas dan pengucapannya yang cedal. Cewek kelahiran Aachen, Jerman Barat ini tidak berhasil menyelesaikan studinya di SMA Pangudi Luhur Van Lith karena tidak naik kelas.
Di Kelas 1B, Gita tergolong anak yang cerdas. Terbukti, dia menduduki rangking di kelasnya, sementara dia juga aktif di OSIS. Namun, peristiwa kerasukan di belakang Kapel ASPI membuat Gita shock dan trauma. Di Kelas 2B prestasi Gita merosot drastis. Nilai-nilai ulangannya tidak lagi sebening ketika di kelas 1. Kondisi ini yang menyebabkan Gita tidak naik kelas, dan harus dikeluarkan dari SMA Pangudi Luhur Van Lith.
Selepas dari Muntilan, Gita tidak memiliki semangat untuk melanjutkan sekolahnya. Bahkan ketika orangtuanya mendorong Gita untuk tetap sekolah, Gita tidak meresponsnya. Meskipun begitu, Gita tetap melanjutkan sekolahnya di sebuah SMA swasta di Bandung, yang kerap disebutnya sebagai "Sekolah Kotak Sabun." Karena masih trauma, Gita semula hanya asal-asalan saja sekolah. Akan tetapi, menjelang ujian akhir SMA (EBTANAS), Gita seakan tersadar bahwa dia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh kawan-kawannya di Sekolah Kotak Sabun itu. Gita belajar dengan giat dan diapun lulus dengan nilai yang memuaskan.
Bermodal itu, Gita melanjutkan kuliahnya di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Di situ dia dipertemukan kembali dengan Rere-5 kawan sekelasnya dulu di SMA Pangudi Luhur Van Lith yang kuliah di FISIP, UI. Setelah lulus dan bekerja di sebuah biro konsultan hukum, Gita akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang karyawan di bagian Legal, HSBC, Jakarta.
![[left]Gita-5](/images/6/6a/Gita-5.jpg)
